MUHAMMAD RUSLI MALIK | TAKBIRAN, PERANG, DAN KEDAULATAN

TAKBIRAN, PERANG, DAN KEDAULATAN  |  MUHAMMAD RUSLI MALIK

Salah satu tanda paling nyata selesainya Ramadhan dan ibadah puasa adalah takbiran.

Secara harfiah takbiran bermakna menyuarakan kalimat takbir “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar). Bergeser sedikit ke makna yang lebih luas, artinya Tuhan Maha Sempurna. Tuhan adalah segala-galanya.

Kalimat ini melahirkan dua efek sekaligus: psikologis dan politis. Secara psikologis, orang yang hatinya memahami kebesaran Tuhan akan bersikap sederhana, rendah hati, optimis, dan tak suka meledak.

Karena semuanya kecil. Termasuk dirinya. Dan kecil di hadapan yang tak terbatas, difahami sebagai ketiadaan. Sehingga egonya tenggelam ke dalam semesta Kebesaran Tuhan.

Akalnya menguasai hawa nafsunya. Tindakannya tertopang oleh pilar-pilar kuat rasionalnya. Segala-galanya, sebelum menjadi perkataan dan perbuatan, dipertimbangakan dengan sangat tenang, matang, cerdas, berjangkauan jauh ke depan.

Hidupnya berwarna dan berkontur. Tetapi justru dalam kewarna-warnian dan keberundak-undakan itulah ia merasakan kebahagiaan sejati. Merasakan hakikat hidup yang paling purna. Karena telah merasakan kehadiran tunggal Yang Maha Sempurna di seluruh antero jiwanya.

Suasana psikologisnya ini mempengaruhi pandangan dunianya. Buminya telah melangit dan langitnya telah membumi. Tak lagi mengenal sekat-sekat aksiologi.

Ruang kesadarannya telah kehilangan batas-batas demarkasinya. Hidupnya di dunia tak dipartisi oleh cita-cita eskatologinya. Dan kerinduan eskatologisnya tak ditabiri oleh perjuangan kemanusiaannya di dunia.

Sehingga nyawa putihnya (mujahadah) menjadi bagian dari mati sucinya (syahadah). Dan mati sucinya menjadi bagian dari regenerasi perlawanan hingga akhir.

Manusia jenis ini tak mempan lagi ditakuti-takuti dengan kematian. Baginya, kematian adalah kemuliaan. Kematian adalah transendensi. Kematian adalah perjalanan menuju keabadian. Kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya.

Pelajarilah kisah Imam Husein dan orang-orang yang martir bersamanya di Palagan Karbala. Mereka lebih memilih kematian daripada kehilangan kedaulatannya untuk berkata “tidak” kepada penguasa tiran.

Kehilangan kedaulatan berkata “tidak” kepada penguasa despotik adalah syirik, politeis. Karena berarti dalam hatinya masih ada rasa takut kepada selain Tuhan Yang Maha Besar.

Efek politiknya adalah kedaulatan tunggal dalam bernegara, yang rela dipertahankan dan diperjuangkan dengan derita dan darah. Tak ada kekuatan eksternal manapun—bagaimanapun besar dan digdayanya—yang mampu mendiktekan kehendaknya kepada entitas negara berdaulat seperti ini.

Setiap kali kekuatan besar dan digdaya—sendiri atau beraliansi—mencoba memaksakan agendanya, yang mereka temui adalah gunung batu raksasa. Dan itu sama saja dengan bunuh diri.

Palestina dan Iran adalah contoh hidup dari negara seperti ini. Dengan dibantu oleh Amerika dan negara-negara besar lainnya (terutama NATO), sejak 1947 sampai sekarang Israel tidak mampu menghapus Palestina dari peta.

Begitu juga Iran. Sejak takbiran psikologis mengejawantah menjadi takbiran politis dalam bentuk Wilayatul Faqih (WF), maka struktur negara dan kultur bangsa tiba-tiba bermetamorfosis menjadi cahaya yang menakutkan bagi aktor-aktor kegelapan.

Yang paling gelisah adalah Israel, Amerika serta sekutu NATO-nya, dan para pengemis remah yang mengaku merdeka tapi tak berdaulat.

Israel pucat-pasi karena ada negara berdaulat anti maling dan anti genosida tak jauh dari sempadan negaranya. Amerika serta NATO-nya takut tergerogoti imperium kolonialnya. Sementara para pengemis remah gemetaran dikejar mimpi buruk monarkinya atau demokrasi seolah-olahnya.

Oleh sebab itu, mereka menggunakan berbagai macam cara—isolasi, sangsi, persekusi, perundungan, narasi, opini, diplomasi, negosiasi plasebo, blokade, embargo, operasi bendera palsu, ancaman, serangan terorisme, hingga pengerahan militer langsung—untuk mematikan cahayanya dan menghancurkan bangunannya. Tetapi semuanya gagal total.

Alasan kegagalannya sederhana: WF mempertemukan seluruh penjuru mata angin realitas dan mempersatukan ufuk terbawah dan ufuk tertinggi kehidupan, bumi dan langit.

WF tak menampik trias politika dan demokrasi. Di Iran ada eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Tapi trias politika tak bisa diintervensi seenaknya oleh oligarki kapitalisme global, sebagaimana di negara-negara demokrasi pada umumnya.

Karena di belakang trias politika ada tulang punggung negara yang berdiri kokoh, yang kekuatannya tak bisa dijangkau dan dipahami oleh para filosof politik empirik.

Yaitu barisan manusia takbiran, ulama polimat, yang dianggap terbaik (dipilih secara demokratis) dari wilayahnya masing-masing. Di Iran, barisan mereka disebut Majles-e Khobregân (Assembly of Experts). Anggotanya 88 orang.

Di puncak semua itu, sekaligus sebagai roh kehidupan bangsa dan negara, ada Rahbar (Supreme Leader, Pemimpin Agung) yang dipilih dan diawasi (kinerjanya) oleh Dewan Ahli tersebut.

Rahbar adalah manusia takbiran yang buminya telah melangit dan langitnya telah membumi. Sosok yang tak lagi mengenal sekat-sekat aksiologi. Yang mengingatkan pada Imam Husein.

Diantara sekian banyak tugas-tugas konstitusionalnya, risalah hidupnya bisa disederhanakan menjadi dua: menjaga kedaulatan negara dan menolong bangsa-bangsa tertindas.

Itulah mengapa Rahbar sangat peduli kepada integritas negaranya dan nasib bangsa Palestina. Dan itu juga sebabnya mengapa Israel, Amerika, NATO, dan para pengemis remah sangat tak suka padanya.

Perhatikanlah selama perang berlangsung. Yang jadi target pembunuhan Amerika dan Israel adalah Rahbar dan figur-figur yang terkait langsung dengannya. Sedangkan dari cabang trias politika tak ada.

Bukan berarti bahwa tokoh-tokoh dari cabang trias politika, terutama eksekutif, anak emas dari musuh. Bukan. Tapi kalau WF sudah runtuh dan tinggal trias politika, maka oligarki global sudah bisa ikut cawe-cawe dalam pemilu. Kemerdekaan tetap, namun kedaulatan sirna.

Bangsa Iran telah menjiwai cerita WF ini. Sehingga walau setiap hari mereka dibombardir secara membabi buta oleh Amerika dan Israel, tetapi—tanpa rasa takut sama sekali—setiap malam juga mereka ke luar memenuhi jalanan di berbagai kota untuk menolong Husain-nya.

Sebaliknya, begitu mendengar sirene meraung-raung, warga Israel langsung lari pontang-panting mencari bunker untuk menyelamatkan diri.*


Penulis,


Muhammad Rusli Malik

Penulis "Tafsir Al-Barru"
Pembina "Rumah Kajian Al-Quran al-Barru" (RKAB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  • SHARE