Salah satu tanda paling nyata selesainya Ramadhan dan ibadah puasa adalah takbiran.
Secara
harfiah takbiran bermakna menyuarakan kalimat takbir “Allahu Akbar” (Allah Maha
Besar). Bergeser sedikit ke makna yang lebih luas, artinya Tuhan Maha Sempurna.
Tuhan adalah segala-galanya.
Kalimat
ini melahirkan dua efek sekaligus: psikologis dan politis. Secara psikologis,
orang yang hatinya memahami kebesaran Tuhan akan bersikap sederhana, rendah
hati, optimis, dan tak suka meledak.
Karena
semuanya kecil. Termasuk dirinya. Dan kecil di hadapan yang tak terbatas,
difahami sebagai ketiadaan. Sehingga egonya tenggelam ke dalam semesta
Kebesaran Tuhan.
Akalnya
menguasai hawa nafsunya. Tindakannya tertopang oleh pilar-pilar kuat
rasionalnya. Segala-galanya, sebelum menjadi perkataan dan perbuatan,
dipertimbangakan dengan sangat tenang, matang, cerdas, berjangkauan jauh ke
depan.
Hidupnya
berwarna dan berkontur. Tetapi justru dalam kewarna-warnian dan
keberundak-undakan itulah ia merasakan kebahagiaan sejati. Merasakan hakikat
hidup yang paling purna. Karena telah merasakan kehadiran tunggal Yang Maha Sempurna
di seluruh antero jiwanya.
Suasana
psikologisnya ini mempengaruhi pandangan dunianya. Buminya telah melangit dan
langitnya telah membumi. Tak lagi mengenal sekat-sekat aksiologi.
Ruang
kesadarannya telah kehilangan batas-batas demarkasinya. Hidupnya di dunia tak
dipartisi oleh cita-cita eskatologinya. Dan kerinduan eskatologisnya tak
ditabiri oleh perjuangan kemanusiaannya di dunia.
Sehingga
nyawa putihnya (mujahadah) menjadi bagian dari mati sucinya (syahadah). Dan
mati sucinya menjadi bagian dari regenerasi perlawanan hingga akhir.
Manusia
jenis ini tak mempan lagi ditakuti-takuti dengan kematian. Baginya, kematian
adalah kemuliaan. Kematian adalah transendensi. Kematian adalah perjalanan
menuju keabadian. Kematian adalah kehidupan yang sesungguhnya.
Pelajarilah
kisah Imam Husein dan orang-orang yang martir bersamanya di Palagan Karbala.
Mereka lebih memilih kematian daripada kehilangan kedaulatannya untuk berkata
“tidak” kepada penguasa tiran.
Kehilangan
kedaulatan berkata “tidak” kepada penguasa despotik adalah syirik, politeis.
Karena berarti dalam hatinya masih ada rasa takut kepada selain Tuhan Yang Maha
Besar.
Efek
politiknya adalah kedaulatan tunggal dalam bernegara, yang rela dipertahankan
dan diperjuangkan dengan derita dan darah. Tak ada kekuatan eksternal
manapun—bagaimanapun besar dan digdayanya—yang mampu mendiktekan kehendaknya
kepada entitas negara berdaulat seperti ini.
Setiap
kali kekuatan besar dan digdaya—sendiri atau beraliansi—mencoba memaksakan
agendanya, yang mereka temui adalah gunung batu raksasa. Dan itu sama saja
dengan bunuh diri.
Palestina
dan Iran adalah contoh hidup dari negara seperti ini. Dengan dibantu oleh
Amerika dan negara-negara besar lainnya (terutama NATO), sejak 1947 sampai
sekarang Israel tidak mampu menghapus Palestina dari peta.
Begitu
juga Iran. Sejak takbiran psikologis mengejawantah menjadi takbiran politis
dalam bentuk Wilayatul Faqih (WF), maka struktur negara dan kultur bangsa
tiba-tiba bermetamorfosis menjadi cahaya yang menakutkan bagi aktor-aktor
kegelapan.
Yang
paling gelisah adalah Israel, Amerika serta sekutu NATO-nya, dan para pengemis
remah yang mengaku merdeka tapi tak berdaulat.
Israel
pucat-pasi karena ada negara berdaulat anti maling dan anti genosida tak jauh
dari sempadan negaranya. Amerika serta NATO-nya takut tergerogoti imperium
kolonialnya. Sementara para pengemis remah gemetaran dikejar mimpi buruk
monarkinya atau demokrasi seolah-olahnya.
Oleh
sebab itu, mereka menggunakan berbagai macam cara—isolasi, sangsi, persekusi,
perundungan, narasi, opini, diplomasi, negosiasi plasebo, blokade, embargo,
operasi bendera palsu, ancaman, serangan terorisme, hingga pengerahan militer
langsung—untuk mematikan cahayanya dan menghancurkan bangunannya. Tetapi
semuanya gagal total.
Alasan
kegagalannya sederhana: WF mempertemukan seluruh penjuru mata angin realitas
dan mempersatukan ufuk terbawah dan ufuk tertinggi kehidupan, bumi dan langit.
WF
tak menampik trias politika dan demokrasi. Di Iran ada eksekutif, legislatif,
dan yudikatif. Tapi trias politika tak bisa diintervensi seenaknya oleh
oligarki kapitalisme global, sebagaimana di negara-negara demokrasi pada
umumnya.
Karena
di belakang trias politika ada tulang punggung negara yang berdiri kokoh, yang
kekuatannya tak bisa dijangkau dan dipahami oleh para filosof politik empirik.
Yaitu
barisan manusia takbiran, ulama polimat, yang dianggap terbaik (dipilih secara
demokratis) dari wilayahnya masing-masing. Di Iran, barisan mereka disebut
Majles-e Khobregân (Assembly of Experts). Anggotanya 88 orang.
Di
puncak semua itu, sekaligus sebagai roh kehidupan bangsa dan negara, ada Rahbar
(Supreme Leader, Pemimpin Agung) yang dipilih dan diawasi (kinerjanya) oleh
Dewan Ahli tersebut.
Rahbar
adalah manusia takbiran yang buminya telah melangit dan langitnya telah
membumi. Sosok yang tak lagi mengenal sekat-sekat aksiologi. Yang mengingatkan
pada Imam Husein.
Diantara
sekian banyak tugas-tugas konstitusionalnya, risalah hidupnya bisa
disederhanakan menjadi dua: menjaga kedaulatan negara dan menolong
bangsa-bangsa tertindas.
Itulah
mengapa Rahbar sangat peduli kepada integritas negaranya dan nasib bangsa
Palestina. Dan itu juga sebabnya mengapa Israel, Amerika, NATO, dan para
pengemis remah sangat tak suka padanya.
Perhatikanlah
selama perang berlangsung. Yang jadi target pembunuhan Amerika dan Israel
adalah Rahbar dan figur-figur yang terkait langsung dengannya. Sedangkan dari
cabang trias politika tak ada.
Bukan
berarti bahwa tokoh-tokoh dari cabang trias politika, terutama eksekutif, anak
emas dari musuh. Bukan. Tapi kalau WF sudah runtuh dan tinggal trias politika,
maka oligarki global sudah bisa ikut cawe-cawe dalam pemilu. Kemerdekaan tetap,
namun kedaulatan sirna.
Bangsa
Iran telah menjiwai cerita WF ini. Sehingga walau setiap hari mereka
dibombardir secara membabi buta oleh Amerika dan Israel, tetapi—tanpa rasa
takut sama sekali—setiap malam juga mereka ke luar memenuhi jalanan di berbagai
kota untuk menolong Husain-nya.
Sebaliknya,
begitu mendengar sirene meraung-raung, warga Israel langsung lari
pontang-panting mencari bunker untuk menyelamatkan diri.*
Penulis,
Muhammad Rusli Malik
Penulis "Tafsir Al-Barru"
Pembina "Rumah Kajian Al-Quran al-Barru" (RKAB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar