DIEMBARGO PULUHAN TAHUN HINGGA SEKARANG, KENAPA IRAN BISA PUNYA RIBUAN RUDAL ?

Apa yang ditunjukin Iran di perang versus Amerika dan Israel benar-benar bikin dunia melek. Bahkan presiden AS, Donald Trump, juga nggak nyangka dengan kejutan ini.

Kalian bisa bayangin nggak, negara yang 40 tahun lebih ekonomi dan militernya diembargo sama Barat ternyata bisa ngasih hujan rudal ke Israel.

Pangkalan militer Amerika di beberapa tempat negara teluk jadi target serangan drone Iran. Yang terbaru, FBI sampai ngasih peringatan adanya potensi serangan drone Iran ke California. Ini jelas nggak main-main.

Pertanyaannya, kok bisa Iran bangun ribuan rudal dan drone canggih di tengah himpitan ekonomi? Apa yang mereka lakukan dan kenapa kita harus belajar dari mereka?


PART I : LAHIR DARI KETERDESAKAN

Mari kita ulas satu-satu. Akar kekuatan militer Iran sebenarnya bisa ditelusuri sampai kedua peristiwa besar dalam sejarahnya.

Yang pertama, REVOLUSI ISLAM TAHUN 1979.

Setelah revolusi ini, hubungan Iran sama Barat langsung memburuk. Akses ke teknologi militer Barat ditutup. Padahal sebelum revolusi, Iran bergantung banget sama senjata dari Amerika. Salah satunya adalah Jet Tempur F-14.

Ketika hubungan putus, akses ke suku cadang senjata itu juga jadi terhenti. Hubungan mesra Iran di dinasti Pahlevi sama Israel juga buyar. Iran ambil jalan anti Israel. Dan Israel anggap Iran sebagai ancaman.

Yang kedua, PERANG IRAK-IRAN TAHUN 1980-1988

Dalam perang ini, Irak berulang kali nembakin rudal Scud ke kota-kota di Iran. Masalahnya, waktu itu Iran nggak punya sistem rudal untuk membalas.

Trauma ini jadi titik balik yang besar. Dari sinilah lahir doktrin militer Iran bahwa keamanan negara nggak boleh bergantung sama negara lain.

Kalau ditarik ke Indonesia, ini mirip sama filosofi pembangunan Bung Karno tahun 1960-an yaitu BERDIKARI alias BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI.

Tapi, Iran tidak bangun teknologi rudalnya dalam semalam. Ada 3 tahap besar dalam perkembangannya.

TAHAP I, TAHUN 1980-AN

Itu era awal di mana Iran mempelajari rudal Scud B dari Libya dan Suriah. Rudal dibongkar dan direkayasa balik. Di dunia teknologi, ini disebut REVERSE ENGINEERING

TAHAP II, TAHUN 1990-AN

Iran mulai kerjasama dengan Korea Utara. Dari sini muncul seri rudal Syahab. Salah satu yang paling terkenal adalah Syahab 3. Rudal ini punya jangkauan sekitar 1.300 km, jarak yang cukup buat jangkau banyak target di Timur Tengah.

TAHAP III, TAHUN 2000 SAMPAI SEKARANG

Iran mulai fokus sama teknologi bahan bakar padat. Teknologi ini bisa bikin rudal diluncurkan lebih cepat dan lebih sulit dideteksi.

Seiring waktu, Iran membangun berbagai varian rudal. Dari seri Fateh yang presisi tinggi sampai rudal Hipersonik bisa nembus sistem pertahanan modern. 

Hasilnya, banyak analis militer menyebut Iran sekarang punya salah satu gudang rudal terbesar di Timur Tengah.


PART II : MENGAKALI EMBARGO

Nah, di sini semua teknologi militer itu kan mahal. Rudal, drone, sistem pertahanan, semua butuh biaya besar. Pertanyaannya, kok Iran masih bisa membiayai semua itu? Pahal ekonominya kena sanksi berat.

Jawabannya ada di strategi ekonomi yang mereka sebut sebagai RESISTANCE ECONOMY. Intinya, kalau nggak bisa impor dari luar, ya harus bikin sendiri. Makanya Iran mengembangkan industri domestiknya, termasuk industri pertahanan, mulai dari rudal balistik sampai drone canggih.

Terus dari mana Iran dapat dana untuk bangun industri dalam negeri di tengah embargo ekonomi. Jawabannya adalah MINYAK. Iran itu negara dengan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia di bawah Venezuela dan Arab Saudi.

Melimpahnya minyak bikin Iran punya daya tawar ekonomi di dunia. Pertama, sama negara-negara non-Barat. Salah satunya adalah China yang diperkirakan menyerap sebagian besar ekspor minyak Iran.

Sebagian transaksi ini dilakukan melalui jalur non-tradisional. Tujuannya tentu buat menghindari sistem keuangan yang dikontrol sama Amerika Serikat.

Dalam laporan media Iran Internasional disebut beberapa perusahaan minyak China jadi mitra utama Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dalam perdagangan minyak.

Dari sini, Iran tetap punya pemasukan untuk anggaran militernya. Bahkan pasokan bahan bakar roket Iran juga banyak berasal dari China.

Selain China, Rusia juga jadi mitra militer Iran. Dalam berbagai laporan media Rusia kerap mirip pakar senjata atau ahli-ahli rudalnya ke Iran. Bahkan kerjasama kedua negara juga mencakup pengiriman sistem rudal untuk pertahanan udara, sensor militer, sampai pengembangan teknologi nuklir.


PART III : PELAJARAN PENTING

Menariknya, Iran nggak cuma mengandalkan industri berat. Mereka juga berinvestasi besar di bidang teknologi dan riset. Misalnya, Universitas Teknik terkenal di Iran, Sharif University of Technology, yang didirikan sejak tahun 1966. Universitas ini jadi salah satu pusat pendidikan teknik terbaik di kawasan Timur Tengah.

Sejak revolusi 1979, Iran memang memperkuat ekonomi berbasis pengetahuan. Hasilnya, kita bisa melihat dalam beberapa data. Misalnya peringkat Iran dalam Global Innovation Index naik drastis, dari posisi 104 pada tahun 2012 menjadi posisi 53 pada tahun 2022. Kontribusi sektor teknologi ke PDB juga meningkat, dari 3,8% pada tahun 2016 menjadi hampir 7% pada tahun 2020. Ini artinya Iran nggak hanya bangun senjata. Tapi juga membangun ekosistem teknologi dan risetnya. 

Hal-hal kayak gini nih yang harusnya kita contoh, bukan MBG dan KOPDES doang.

Nggak cuma itu, kita juga bisa belajar dari Iran tentang kemandirian teknologi, termasuk di industri pertahanan. Kurang-kurangin lah impor alutsista yang mahal itu. Fokus bangun industri dalam negeri. 

Kampus juga harus terhubung sama industri. Iran itu punya ribuan Knowledge-Based Companies yang lahir dari kampus. Ada 4.500 perusahaan berbasis riset yang dibangun untuk mengkomersialkan penelitian kampus. Jadi, riset kampus bisa jadi acuan buat industri bikin produk jadi. bukan cuma jadi mejeng-mejeng di rak perpustakaan doang. 

Contoh tuh Iran, bangun rudal atau drone murah tapi efektif. Negara juga harus aktif dorong ekosistem inovasi anak bangsa. Di Iran, start-up dan perusahaan yang fokus ke ilmu pengetahuan dan teknologi dikasih diskon pajak sampai 15 tahun. Iran juga punya PARDIS TECHNOLOGY PARK, Taman Teknologi terbesar dan pertama di Iran yang dijuluki sebagai Sillicon Valley-nya Iran. Tempat ini jadi pusat inovasi dan teknologi yang nampung 370 perusahaan teknologi tinggi dan 2.000 start-up yang mempekerjakan ribuan spesialis.

Soal anggaran riset jangan ditanya, Iran jor-joran bahkan sempat naikin anggaran riset 256% buat badan risetnya. Jadi, bukan dipotong-potong dengan alasan efisiensi anggaran kayak di Konoha.

Jadi, kalau di lihat dari gambar, misalnya, kemampuan militer Iran sebenarnya bukan muncul secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari puluhan tahun isolasi, investasi di teknologi, strategi ekonomi alternatif, jaringan mitra internasional. Dan yang paling menarik, semua itu justru lahir dari keterdesakan. Ketika akses ke luar ditutup, mereka dipaksa mencari jalan sendiri.

Pertanyannya sekarang, apa kita juga punya keberanian yang sama untuk berdikari? Karena di dunia yang makin tidak pasti, negara yang bergantung pada impor teknologi, impor senjata, atau impor pangan sebenarnya sedang menaruh masa depannya di tangan orang lain.

Iran nunjukin satu hal penting, kemandirian teknologi itu bukan pilihan mewah, tapi soal bertahan sebagai negara. Dan pelajaran besarnya mungkin bukan tentang rudal, tapi tentang mentalitas. Negara yang mau bertahan di masa depan harus berani investasi di ilmu pengetahuan, riset, dan anak mudanya.

Nah menurut kalian gimana? Apa Indonesia juga harus mulai serius bangun kemandirian teknologi dan industri strategisnya? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya !!! Dan kalau menurut kalian pembahasan kayak gini penting, share video ini ke teman-teman kalian !!!

----------

Sumber :

https://www.youtube.com/watch?v=wU6jAeGZJSY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  • SHARE