1. Pernyataan Musuh yang Terang-Terangan
Baru-baru
ini, seorang menteri ASU menyatakan di hadapan publik bahwa seluruh umat
Islam—tanpa membedakan Sunni maupun Syiah—adalah musuh. Ini bukan tafsiran, bukan kebocoran, melainkan
pernyataan resmi yang direkam dan disebarluaskan.
Tidak
ada ruang untuk bersikap seolah-olah tidak mendengar. Ketika musuh telah
menyebut identitas kita secara gamblang, maka kewaspadaan adalah keharusan, dan
persatuan adalah keharusan yang lebih mendesak.
2.
Ironi di Tengah Umat Sendiri
Namun,
fenomena aneh terjadi di ruang-ruang digital yang seharusnya menjadi sarana
komunikasi umat. Beberapa grup di media sosial—Facebook, Telegram,
dan lainnya—justru menerapkan kebijakan yang menolak setiap upaya untuk
membangun kesepahaman antarkomponen umat Islam.
Siapa
pun yang menyerukan persatuan, mengingatkan akan bahaya bersama, atau mengajak
pada wadah bersama, dikeluarkan (di-banned) secara sepihak.
Yang lebih mengherankan, tindakan ini dilakukan
oleh grup-grup yang secara eksplisit tidak mengaku sebagai bagian dari paham
tertentu. Namun pola yang berulang: mereka mengharamkan perlawanan terhadap
ASU, 1srahe11 dan semua sekutunya, bahkan menyebut keduanya sebagai partner
sejati.
Di
sinilah letak ironi: di saat ancaman terhadap identitas umat telah dinyatakan
secara terbuka, sebagian orang justru sibuk menutup pintu dialog internal.
3.
Fakta yang Tak Terbantahkan: Ada Panggilan untuk Bersatu
Tidak sedikit ulama dari berbagai latar belakang—terutama dalam tradisi Sunni—telah menyuarakan fatwa dan seruan untuk bersikap tegas terhadap arogansi ASU dan 1srahe11.
Seruan ini didasarkan pada prinsip membela agama dan melindungi kaum yang teraniaya, sebuah kewajiban yang telah mapan dalam fikih.
Maka
timbul pertanyaan logis: Jika seseorang mengaku sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang sama,
lalu mengapa ia menutup mata terhadap seruan ulama-ulama tersebut?
Mengapa ia justru sibuk membungkam orang-orang
yang hanya ingin mengingatkan?
Sikap
“tidak tahu” atau “tidak ingin terlibat” bukan alasan yang bisa dipertahankan,
karena dalam Islam, al-‘ilmu bi al-wāqi‘ (mengetahui realitas) adalah syarat
untuk mengambil sikap yang benar.
4.
Mekanisme Pembungkaman: Antara Takut dan Pilihan
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pengelola grup tersebut tidak menghapus unggahan tentang persatuan secara terang-terangan.
Jika mereka melakukannya, akan tampak jelas keberpihakan mereka kepada ASU dan 1srahe11. Maka taktik yang dipilih adalah: membanned orangnya, bukan menghapus utasnya.
Dengan
cara ini, mereka bisa tetap mempertahankan citra “netral” sambil terus
membersihkan ruang dari suara-suara yang menyerukan persatuan. Inilah bentuk penganiayaan yang
halus: jika tidak mampu membantu, setidaknya jangan menyakiti. Namun mereka
memilih untuk menyakiti dengan cara yang terselubung.
Sejarah
mengajarkan bahwa diam dalam kondisi kritis seringkali dibayar dengan harga
yang sangat mahal.
5.
Pelajaran dari Masa Lalu: Suara yang Hilang
Peristiwa
Karbala adalah salah satu saksi bisu. Sayyidina Husain bin Ali—cucu Nabi Saw, pemimpin
pemuda surga—gugur bukan karena tidak ada yang tahu kebenaran, tetapi karena
kebanyakan orang memilih diam.
Tekanan
dari kekuasaan saat itu begitu besar sehingga banyak saksi hidup yang pernah
mendengar langsung dari Rasulullah SAW bahwa Sayyidina Husain adalah salah satu
pemuda penghulu surga tidak berani bersuara. Peristiwa besar ini terjadi tak
lebih dari 50 tahun setelah wafatnya baginda Nabi SAW.
Mereka
tahu persis kedudukan Husain di sisi Nabi SAW. Mereka tahu bahwa membiarkannya
terbunuh adalah pelanggaran besar. Namun sepertinya tekanan penguasa saat itu
membuat mereka memilih diam.
*****
DIambil dari :
https://t.me/logikaagamasuci/931

Tidak ada komentar:
Posting Komentar